Wednesday, February 26, 2014

Children of Tomorrow AIESEC UI Winter 2014

On the 7th of January until 7th of February 2014, AIESEC Universitas Indonesia held a project based on exchange (P-Box) called Children of Tomorrow (CoT) which concerns on the language literacy. In this winter, CoT was held in Rumah Belajar Proklamasi, Manggarai. Rumah Belajar Proklamasi has become the partner of CoT for around four times and now Rumah Belajar Proklamasi became the witness of the success of CoT for one more time.
It was approximately 3 months the organizing committees of CoT worked and prepared for the CoT to be realized successfully. In the first round, we opened opportunity for the exchange participants, volunteers, as well as the host family to join our project. The exchange participants were chosen by CV assessment as well as interview. Those who showed a high willingness to work and high sense of commitment were given the priority for this project. Meanwhile, the volunteers as well as the host family were selected based on their ability in speaking English, high sense of commitment, and their availability during the project.
CoT as one of the AIESEC UI P-Box invited seven exchange participants from Rusia, Belgium, New Zealand, and China to teach English to the children in Rumah Belajar Proklamasi. The main goal of CoT was to give a life-changing experience for the exchange participants as well as the children. In this project, the exchange participants were not only teaching, but also sharing their experience in their country to the children. They did the activities together, laughed together, and played together. From their interaction, their mind were opened toward something outside their country which they could never even been thinking about before. The experience teaching in the slum area with the various backgrounds of children was the real challenge for the exchange participants. Moreover, the culture difference was also the main issue that had to be faced by them.
            Besides teaching English everyday in Rumah Belajar Proklamasi, CoT also arranged the other interesting activities for the exchange participants to make their experience in Indonesia become more meaningful. Those activities were global village, fundraising, bonding trip, and many more. In the global village, all the exchange participants gathered and presented their own country to the public. On the other hand, fundraising was aimed at collecting money to be given to the Rumah Belajar Proklamasi as one of our attempts to help them financially.
The success of CoT was not apart from the contribution of our sponsors and media partners. Lois and International Language Program (ILP) Cikini have become our main sponsors, not to mention @AboutJKT and @anakuidotcom as our media partners. Without their contribution, this project would be nothing more than just a plan.  
As the Organizing Committee President of this project, I was very happy and proud of everybody who had given their hard work to this project. This is one of the experiences I would never forget in the future. In every step I take, I will always remember the time we spent together and the things I learned from you all. I really hope that the experience we all got in this project could teach us something to become a better person. I miss and love my OCs, EPs, Volunteers, and of course children of Rumah Belajar Proklamasi. Best of luck to all of us. :D

Tuesday, June 25, 2013

Renungan Malam ^^



       Setiap manusia butuh menyayangi dan disayangi. Kasih sayang itu bisa diperoleh dari hubungan kita dengan dunia di luar kita, baik itu hubungan dengan Tuhan, orang lain, bahkan alam. Semua aspek kehidupan itu memberikan makna hidup yang berbeda dan menyayangi kita dengan cara yang berbeda. Manusia butuh kasih sayang dari ketiganya. Satu saja sumber kasih sayang itu hilang, akan membuat menusia kebingungan dan berusaha mencari-cari kasih sayang itu lagi.
     Katakan saja kasih sayang dengan sesama manusia. Manusia terlahir sudah memiliki keluarga, setidaknya minimal ibu. Kita hidup dan dibesarkan dalam sebuah keluarga. Mereka menyayangi kita dengan tulus tanpa pamrih. Tapi apakah kasih sayang dari keluarga saja cukup? Tidak. Kehadiran manusia lain di dunia ini membantu kita untuk bertahan hidup. Secara naluriah, manusia pasti membutuhkan bantuan orang lain, dengan tingkat dan jenis kebutuhan yang berbeda. Dalam hal ini kebutuhan yang terpenting adalah kebutuhan akan cinta dan kasih sayang. Tidak ada orang yang tidak suka hidup dengan bergelimang cinta. Materi tidak seprestis cinta, karena materi hanya memberikan kebahagiaan dalam hal tertentu saja, tapi cinta bisa memberikan yang lebih kompleks daripada itu.
     Hidup menjadi lebih bahagia dan bermakna dengan cinta. Seringkali manusia berpikir tidak mendapatkan cinta dari orang lain, padahal tanpa ia sadari banyak orang-orang di sekitarnya yang peduli dan menyayanginya. Hanya mungkin ia tidak mau membuka diri untuk menerima cinta dan kepedulian yang orang lain berikan tersebut. Sehingga yang ada hanyalah sebuah pengharapan yang tidak ada ujung.
       Itu dari perspektif orang lain kepada kita, tapi bagaimana ceritanya kalau kita kepada orang lain? Tidak hanya kita, orang lain pun membutuhkan cinta dan bisa jadi salah satunya didapatkan dari kita. Hanya saja ada beberapa orang yang merasakan kehampaan karena tidak merasakan cinta sejak sekian lama. Hidup terasa hampa dan seolah tidak berwarna. Kalau kata orang, cinta itu tidak harus memiliki. Memang betul, karena hanya dengan merasakan dan menikmati cinta itu saja sudah cukup membuat kita bahagia. Bayangkan saja orang-orang yang susah mencintai dan menjalin hubungan percintaan dengan orang lain. Hidupnya seolah tidak ada dinamikanya. Mungkin ia ingin fokus dengan hal-hal lain yang ia anggap lebih penting dari cinta. Tapi apakah itu akan bertahan lama? Semakin lama kita berfokus dengan hal-hal lain itu, semakin lama kita hidup dengan dunia tanpa cinta yang pada akhirnya menghantarkan kita pada sengsara dan memperoleh kenyamanan dengan diri sendiri. Sekian lama hidup tanpa cinta itu melelahkan. Sekalipun orang-orang bilang cinta itu menyakitkan, tapi untuk orang-orang yang absen dari cinta sekian lama pasti akan lebih memilih sakit karena cinta daripada biasa aja (ngga sakit maupun bahagia) tapi tidak punya cinta. Perasaan biasa saja itu menipu. Kita berpikir kita bahagia, padahal sebenernya hampa.

Berbahagialah orang-orang yang mampu menebar cinta dengan mudah, karena hidupnya pasti bahagia.

Thursday, June 13, 2013

Meaningless

Aku sadar aku berada di sebuah tempat yang asing bagiku, di sebuah hotel mewah lantai 14. Sepintas ruangan kamar ini terlihat kecil, tapi ada satu bagian di ruangan ini yang membuatku merasa sangat nyaman. Spot itu adalah sebuah meja well-furnished yang tepat di depannya jendela yang memungkinkanku untuk melihat pemandangan di luar. Inilah Bandung. Ini kali pertama aku mengunjungi tempat ini. Impresi pertama sangat baik, setidaknya aku jauh merasa lebih aman dan nyaman berada di kota ini dibandingkan Jakarta. Di meja yang terletak di sudut ruangan ini aku membuka laptopku dan mendengarkan musik yang sangat indah yang baru saja kuunduh dari internet, judulnya Handle with Care, sebuah lagu yang dinyanyikan oleh penyanyi asal Filipina. Suaranya indah, akustiknya sederhana, dan sangat easy listening. Aku berpikir mungkin ini lagu yang sangat tepat untuk menemaniku malam ini. Aku sama sekali tidak merasakan kantuk. All I want to do is just writing something..and this is it, the result of my idle. Nothing special, just a bunch of meaningless words.
           Pernah ngga kalian ngerasain ingin mengungkapkan sesuatu kepada seseorang tapi ngga bisa? Bukan karena kita tidak mampu, karna kita tau sekalipun kita mengutarakannya tak akan ada yang berubah, baik dalam dirinya, diri kita, maupun situasi di sekitar kita. Jadi buat apa diungkapkan? Tapi sekarang pertanyaannya darimana kita tau bahwa itu tidak akan mengubah apapun? Hanya keyakinan semata? Seringkali keyakinan itu tidak didasarkan pada fakta dan alasan yang logis, sehingga meleset tidak sesuai dengan apa yang diyakini. Mungkin dalam hal ini pun demikian. Jadi kalo kita sudah tahu bahwa itu hanya keyakinan belaka yang belum tentu benar, harusnya kita ungkapin dong sesuatu itu? Tapi kenapa tetap tidak dilakukan? Mungkin karena kita berpikir bahwa sekalipun perubahan akan terjadi ketika kita mengungkapkan, tapi bisa jadi perubahan itu adalah perubahan yang negatif, dan kita tidak ingin itu terjadi. Iya, itu. Itulah sebabnya mengapa sampai sekarang pun sesuatu itu tidak kuungkapkan..dan ini akan kusimpan selamanya.          
        Sekarang kita berbicara hal yang berbeda. Apa yang akan kalian lakukan jika kalian menemukan seseorang yang tidak mengindahkan ucapan kita? Padahal ucapan itu adalah sebuah pujian dan doa? Ya itu hak mereka. Hak mereka untuk merespon apapun pada orang lain. Ini bukan masalah pantas tidaknya mereka melakukan itu pada kalian, tapi apa yang terasa dan terpikir di benak kalian ketika itu terjadi? Sakit bukan? Apalagi kalau orang itu adalah orang yang keberadaannya penting buat kalian. Aku yakin setiap orang di dunia ini pernah mengalami itu. Mungkin seseorang yang melakukan itu padamu juga diperlakukan demikian oleh orang lain, yang dianggapnya penting. Rasa sakit itu akan ia rasakan juga kok, tinggal masalah kapan dan dengan cara apa. Jadi, kalau memang demikian, seharusnya kita semua sadar bagaimana sebaiknya memperlakukan orang lain supaya tidak menyakiti. Hidup itu panjang, masih banyak ada pengalaman-pengalaman hidup di depan kita nanti yang akan menyadarkan kita bahwa apa yang kita lakukan itu ternyata menyakiti orang lain.
           Demikian sedikit hal yang terpikirkan dan bisa kubagikan pada kalian. Semoga setiap hal baik kecil maupun besar membuat kita belajar. 

Saturday, June 1, 2013

Iseng Nulis

Orang yang datang dalam hidup kita bervariasi, ada yang diharapkan datang ada yang tidak, ada yang sesaat ada yang sekian lama, ada yang menyisakan suka ada juga yang menyisakan duka, dan ada yang bertahan ada yang pergi begitu saja. Yang terpenting dari semua itu adalah semuanya membuat kita belajar, belajar menjadi orang yang lebih baik dan ikhlas menerima kedatangan dan kepergian orang-orang di sekitar kita. Memang bener, hidup itu panggung sandiwara. Semua punya perannya masing-masing yang pada akhirnya semua peran itu hanyalah sekedar peran yang jika tidak dimaknai tidak akan berarti apa-apa. Pemaknaan terhadap peran yang kita lakoni sangat penting untuk dilakukan. Dengan begitu kita akan paham untuk apa kita hidup di dunia.
Sering aku berpikir tidak ada orang yang baik sepenuhnya, juga tidak ada orang yang jahat sepenuhnya. Tidak ada yang baik sepenuhnya karena kita masih punya kepentingan masing-masing yang terkadang untuk mencapainya malah merugikan atau bahkan membahayakan orang lain. Tidak ada orang yang jahat sepenuhnya karena setiap orang masih punya hati untuk merasakan dan otak untuk merasionalisasi setiap tindakan yang dilakukan. Gunakanlah hati dan otak kita sebaik mungkin sehingga sejahat atau sebaik apapun kita, kita dapat berguna untuk orang lain.  



Pengalaman Waisak di Borobudur

            Dulu aku bermimpi untuk dapat merayakan Waisak di Borobudur setidaknya sekali dalam hidup. Aku terinspirasi dari film Arisan 2 dimana salah satu latar tempat shooting mereka adalah di Borobudur ketika perayaan Waisak. Suasana Borobudur yang megah dan ritual pelepasan lampion membuatku tertarik untuk melihat semuanya secara langsung. Lagipula aku juga bisa sambil bersembahyang di sana. Aku dan teman-teman berencana berangkat ke Borobudur sudah sejak tahun lalu, namun baru bisa terealisasi tahun ini. Sesungguhnya aku sangat senang dan bersyukur akhirnya aku bisa benar-benar menghadiri perayaan suci tersebut.
Namun sayangnya perayaan Tri Suci Waisak 2557 di Borobudur kemarin banyak menimbulkan perbincangan di kalangan masyarakat. Keributan, kegaduhan, kekacauan, adalah kata-kata yang tepat untuk menggambarkan perayaan Waisak kemarin. Aku pun yang ada di TKP melihat secara langsung bagaimana kegaduhan itu terjadi. Dimulai saat aku dan teman-temanku (Ajeng, Shari, Kak Hanna, dan Kak iyo) sampai di Borobudur dan bergegas langsung membeli tiket masuk. Katanya loket mulai buka jam 5 sore, dan kami pun tidak di sana sekitar pukul 4.30. Itungannya kami tidak terlambat, namun melihat antrian yang cukup panjang akhirnya petugas loket mengumumkan bahwa tiket telah habis dan kami diminta untuk masuk melalui pintu samping. Semua pengunjung berlari-lari menuju pintu yang dituju, berasa seperti lari sore. Sampai di pintu tersebut, banyak pak polisi yang berjaga dan kami tidak diperbolehkan masuk. Jumlah kami sangat banyak hingga menutupi jalanan di depan pintu. Kami keberatan karena tidak diijinkan masuk. Bukannya kami tidak mau bayar tiket, tapi karena tiket telah habis dan panitia menyuruh kami masuk lewat pintu itu. Negosiasi dilakukan oleh beberapa orang di antara kami. Kami menunggu sekitar 30 menitan lebih berdiri berdesakan di depan pintu gerbang berharap diijinkan masuk. Bahkan banyak di antara kami yang berteriak meminta masuk, termasuk para bule. Akhirnya setelah dilakukan negosiasi dan mereka para panitia sudah berkoordinasi, kami diijinkan masuk. Kami bergegas masuk supaya tidak terlanjur ramai dan penuh.
       Akhirnya kami dapat tempat duduk. Tapi perjuangan belum selesai, kami harus menunggu sekitar 2,5 jam di sana sebelum acara mulai. Hujan pun mengguyur kami yang duduk lesehan di bawah yang hanya beralaskan karpet. Selidik demi selidik, ternyata keterlambatan mulainya acara disebabkan karena Menteri Agama RI belum datang. Ini membuat semua pengunjung dan umat geram sampai mencaci maki pak Menteri. Di waktu Pak Menteri datang, semua bersorak menunjukkan kekesalan mereka. Pak Menteri jalan dengan santainya sambil dipayungi oleh ajudannya. Kata-kata sambutan berjalan cukup lama, pengunjung sangat emosional. Bahkan Gubernur Jawa Tengah ketika itu sempat-sempatnya menyelipkan kata-kata kampanye karena besoknya adalah pilkada Kabupaten Jawa Tengah. Pengunjung terlihat sangat marah sehingga membuat keributan-keributan. Akhirnya acara persembahyangan pun dimulai. Awalnya semua mengikuti dengan hikmat, namun karena hujan semakin deras, pengunjung pun tidak sabar dan bahkan banyak yang naik ke altar. Altar adalah tempat yang khusus ditunjukan untuk para biksu duduk dan melantunkan doa, namun karena pengunjung terlalu bersemangat melihat prosesinya, mereka sampai naik ke altar mengganggu konsentrasi para biksu, terlebih hujan deras mengguyur terus menerus. Aku dan 4 teman lainnya akhirnya pun misah. Aku bersama dengan Ajeng dan Shari, sedangkan Kak Hanna dan Kak Iyo pergi entah kemana. Aku bertiga mengikuti semua prosesi dengan hikmat, sekalipun banyak orang lain yang ribut ketika biksu melantunkan doa. Kami pun bertiga ikut berjalan mengelilingi candi sebanyak tiga kali dengan tertib. Saat itu semua pakaian kami sudah basah kuyup, namun hujan dan basah tidak mengurungkan niat kami berdoa.
            Pelepasan lampion yang seharusnya dilakukan setelah mengelilingi candi pun urung dilakukan karena hujan yang masih deras. Setelah itu banyak pengunjung pergi dan kami bertiga pun memutuskan untuk pergi juga. Sialnya adalah tidak satupun dari kami bertiga membawa HP untuk menghubungi dua teman kami yang lain. Kami hanya membawa uang yang itupun sudah basah terkena hujan (secara kita basah kuyup kehujanan). Akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke salah satu kios yang menjual baju-baju khas daerah setempat untuk meminjam HP penjual baju. Setelah kami berhasil menghubungi teman kami, kami pun memutuskan untuk membeli baju kaos dan celana batik yang seharga 20 ribuan hanya supaya kami tidak pulang dengan basah-basahan. Kami pun mengganti baju kami di kios tersebut. Lucunya adalah baju kami identik dan celana kami semua batik. Sepintas kami terlihat seperti 3 anak terminal yang kehilangan induknya.hahaha.. Saat itu hujan sudah semakin reda, kami menerobos antrian mobil-mobil untuk menuju ke tempat bertemu dengan 2 teman kami. Sialnya adalah saat itu kami belum makan sama sekali. Kami kelaparan dan kedinginan, persis seperti anak terlantar. Wkwk.. Syukurnya dua teman kami datang tidak lama setelah itu dan membawakan roti untuk kami semua. Ketika itu kami langsung memakannya (udah kayak orang ngga makan 3 hari :D). Sesaat kemudian kak inun kami datang dengan mobilnya menjemput kami. Kami langsung masuk dan sangat lega. Sesampai di rumah, kami langsung mandi dan kaki nun membuatkan kami indomie rebus (betapa baiknya kak inun :*). Kami makan dan sesaat kemudian tepar di tempat tidur karena kelelahan.
         Keesokan harinya kami mendengar berita bahwa banyak yang kesal dan marah dengan perayaan Waisak kemarinnya. Bahkan saat prosesi di siang harinya ada salah satu pengunjung yang naik ke candi dan berjongkok di depan Biksu yang sedang berdoa. Ada juga yang menginjak kaki Biksu. Mendengar ini aku betul-betul kesal. Negara yang katanya toleransi beragamanya tinggi kok perilakunya begitu. Sama sekali tidak menunjukkan sikap menghargai antar umat beragama. Namun terlepas dari itu semua, aku sangat menikmati bersembahyang di Borobudur tepat di hari besar Waisak. Kemegahan dan keindahan Borobudur benar-benar terpancar dengan hiasan janur-janur kuning dan pancaran lampu sorot yang menambah eksotisme salah satu kejaiban dunia tersebut. Semua terasa indah dan bermakna dengan kejadian-kejadian lucu yang cukup melelahkan. :) :) :)